Riset

HBOT untuk Luka Kaki Diabetes: Apa Kata Uji Klinis dan Tinjauan Sistematis | Klinik Darma Nusantara

Perubahan luas luka, penyembuhan total, dan amputasi dicatat sebagai luaran yang berbeda dalam uji klinis HBOT. Berikut apa yang dapat dan belum dapat disimpulkan dari buktinya.

Oleh Redaksi Stem Cells Indonesia5 November 20265 menit baca
Seorang ilmuwan memeriksa labu kultur sel menggunakan mikroskop stereo di laboratorium.
Seorang ilmuwan memeriksa labu kultur sel menggunakan mikroskop stereo di laboratorium. Foto: Peter Saxon via Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) adalah terapi ketika pasien menghirup oksigen murni di dalam ruang bertekanan tinggi. Banyak keluarga pasien diabetes bertanya apakah HBOT benar-benar membantu luka kaki yang tidak kunjung sembuh. Jawabannya belum seragam: sebagian uji klinis menunjukkan hasil yang menjanjikan, tetapi tinjauan sistematis menunjukkan bukti yang belum konsisten.

Artikel ini merangkum bukti HBOT untuk luka kaki diabetes bagi pembaca umum, pasien, dan keluarga. Kami juga memisahkan ukuran yang dicatat peneliti, seperti luas luka, dari luaran yang langsung dirasakan pasien, seperti penyembuhan total dan amputasi.

Apa itu HBOT dan mengapa dipakai untuk luka kaki diabetes?

HBOT adalah singkatan dari hyperbaric oxygen therapy, yaitu pemberian oksigen murni pada tekanan dua hingga tiga kali tekanan atmosfer di dalam ruang hiperbarik. Cara ini meningkatkan kadar oksigen di arteri dan jaringan.

Infografik konseptual: HBOT untuk Luka Kaki Diabetes: Apa Kata Uji Klinis dan Tinjauan Sistematis | Klinik Darma Nusantara
Ilustrasi konseptual, bukan gambaran klinis yang sebenarnya. Ilustrasi dibuat dengan AI untuk keperluan editorial.

Sebuah tinjauan sistematis di PubMed Central menjelaskan bahwa luka kronis sering mengalami hipoksia, yaitu kekurangan oksigen. Hal inilah yang menjadi alasan HBOT digunakan sebagai terapi tambahan, bukan sebagai pengganti perawatan luka standar.

Seperti apa protokol HBOT dalam uji klinis?

Salah satu contohnya adalah uji acak terbuka yang dipublikasikan di Wound Ostomy and Continence Nursing (2017). Uji ini melibatkan 38 pasien luka kaki diabetes yang tidak sembuh dan kurang layak menjalani operasi pembuluh darah.

Kelompok HBOT menerima perawatan standar ditambah HBOT pada 2,5 ATA selama 120 menit, lima kali seminggu selama empat minggu. Hasil yang diukur mencakup penyembuhan, penanda peradangan, amputasi, dan kualitas hidup. Protokol ini berasal dari satu penelitian, sehingga protokol di klinik mana pun dapat berbeda dan ditentukan oleh tenaga medis.

Apa perbedaan perubahan luas luka dan luaran yang dirasakan pasien?

Perubahan luas luka adalah ukuran yang dicatat peneliti selama studi, sedangkan penyembuhan total, amputasi, dan kualitas hidup adalah luaran yang berdampak langsung pada pasien. Hasil pada satu ukuran belum tentu berarti hasil yang sama pada ukuran lain.

Infografik konseptual: HBOT untuk Luka Kaki Diabetes: Apa Kata Uji Klinis dan Tinjauan Sistematis | Klinik Darma Nusantara
Ilustrasi konseptual, bukan gambaran klinis yang sebenarnya. Ilustrasi dibuat dengan AI untuk keperluan editorial.
Jenis ukuranTemuan dalam bahan risetCatatan membaca
Perubahan luas lukaUji 2013 (36 pasien, dua minggu): sekitar 42% pada HBOT dibanding 18% pada kontrol. Uji awal 1988 (28 pasien, HBOT topikal): tidak ada percepatan penyembuhan dibanding kontrol.Jangka pendek dengan jumlah peserta kecil.
Penyembuhan totalUji HODFU pada 1 tahun: 52% pada HBOT dan 29% pada plasebo (niat-mengobati). Pada pasien yang menyelesaikan lebih dari 35 sesi: 61% dibanding 27%.Satu pusat penelitian; kontrolnya plasebo berupa udara hiperbarik.
AmputasiSebuah tinjauan sistematis di PubMed Central mencatat sebagian besar studi menunjukkan amputasi mayor lebih rendah.Kualitas bukti antarstudi bervariasi.
Angka kematian dan rerata luas lukaMeta-analisis di Scientific Reports (2021) tidak menemukan perbedaan antara HBOT dan kontrol.Pencarian studi hingga September 2020.

Penurunan luas luka pada beberapa uji tidak otomatis berarti pasien sembuh total atau terhindar dari amputasi. Karena itu, jenis ukuran yang dilaporkan perlu diperiksa sebelum sebuah hasil ditafsirkan.

Mengapa bukti HBOT untuk luka kaki diabetes belum konsisten?

Hasil penelitian belum seragam karena beberapa hal berikut.

Tinjauan sistematis di Scientific Reports menyimpulkan HBOT dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan. Namun, kesimpulan itu tidak sama dengan jaminan hasil bagi setiap pasien.

Di mana posisi sel punca dan regenerative medicine?

Regenerative medicine adalah bidang yang meneliti cara memperbaiki atau menggantikan jaringan yang rusak, dan sel punca adalah salah satu pendekatannya. HBOT dan terapi sel punca adalah dua pendekatan yang berbeda. HBOT bekerja dengan meningkatkan kadar oksigen pada jaringan, sedangkan terapi sel punca menggunakan sel atau produk turunannya dengan mekanisme sendiri.

Bahan riset yang ditinjau dalam artikel ini tidak menyatakan bahwa HBOT mengaktifkan sel punca atau meningkatkan keberhasilan terapi sel punca. Keterkaitan keduanya belum dapat dinyatakan sebagai fakta, sehingga HBOT sebaiknya tidak disamakan dengan terapi sel punca. Pasien yang menemui klaim terapi sel punca untuk luka kaki diabetes perlu menanyakan tahap buktinya dan status regulasinya kepada dokter.

Relevansi untuk Indonesia

Pelayanan medik hiperbarik di Indonesia diatur melalui standar Keputusan Menteri Kesehatan yang berlaku sejak 6 Februari 2008. Standar ini menyatakan bahwa pemanfaatan layanan oleh masyarakat harus sesuai standar pelayanan medik hiperbarik. Kementerian Kesehatan juga menyelenggarakan pelatihan penatalaksanaan TOHB (terapi oksigen hiperbarik) yang terbit pada 2019, dengan materi standar dan keselamatan TOHB.

Bagi pasien, beberapa pertanyaan berikut layak diajukan sebelum memulai terapi:

  1. Apa indikasi medis HBOT untuk kondisi luka saya?
  2. Bagaimana rencana protokol dan lamanya terapi?
  3. Bagaimana skrining sebelum sesi dan pemantauan selama terapi?
  4. Bagaimana HBOT dipadukan dengan perawatan luka standar?

Klinik Darma Nusantara dan layanan HBOT di Tangerang

Klinik Darma Nusantara di Jl. Raya Serang Km. 9, Kadu, Curug, Tangerang, Banten, menyediakan Terapi Oksigen Hiperbarik (HBOT). Klinik ini juga memiliki dokter umum, dokter gigi, layanan kebidanan, apotek, dan gawat darurat 24 jam.

Pasien dapat membicarakan indikasi, skrining, dan rencana pemantauan HBOT dengan tenaga medis klinik. Kesesuaian HBOT tetap ditentukan dokter setelah pemeriksaan.

Kesimpulan: apa yang bisa dan belum bisa disimpulkan

Bukti HBOT untuk luka kaki diabetes berbeda-beda antaruji. Beberapa studi melaporkan perbaikan luas luka atau penyembuhan total, sedangkan meta-analisis di Scientific Reports tidak menemukan perbedaan pada angka kematian dan perubahan rata-rata luas luka. HBOT dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan, bukan terapi yang menjamin kesembuhan. Penanganan yang tepat bergantung pada kondisi medis pasien dan penilaian tenaga kesehatan profesional.

Jika Anda ingin mengetahui layanan HBOT di Klinik Darma Nusantara, kunjungi situs resmi Klinik Darma Nusantara atau hubungi telepon (021) 5566 6316 dan WhatsApp +62 811-1015-3055. Konsultasikan kesesuaian terapi dengan tenaga medis sebelum memutuskan.

Terapi Hiperbarik Oksigen bukan terapi sel punca, dan kesesuaiannya selalu ditentukan dokter setelah pemeriksaan. Untuk informasi layanan HBOT di Klinik Darma Nusantara di Curug, Tangerang, hubungi klinik lewat WhatsApp atau kunjungi website resmi Klinik Darma Nusantara.

Gedung Klinik Darma Nusantara
Klinik Darma Nusantara. Foto: Klinik Darma Nusantara (darmanusantararaya.com), digunakan dengan izin.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah HBOT bisa menyembuhkan luka kaki diabetes?

HBOT dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan, tetapi tidak menjamin kesembuhan. Hasil uji klinis belum konsisten, sehingga penanganan luka perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan penilaian dokter.

Apakah HBOT sama dengan terapi sel punca?

Tidak, keduanya berbeda. HBOT adalah pemberian oksigen murni pada tekanan tinggi, sedangkan terapi sel punca menggunakan sel atau produk turunannya dengan mekanisme yang berbeda.

Apakah layanan HBOT di Indonesia punya standar?

Ya, pelayanan medik hiperbarik di Indonesia diatur melalui standar Keputusan Menteri Kesehatan yang berlaku sejak 6 Februari 2008. Standar ini menyatakan pemanfaatan layanan oleh masyarakat harus sesuai standar pelayanan medik hiperbarik.

Apakah HBOT aman untuk semua penderita diabetes dengan luka kaki?

Belum tentu, karena kesesuaian HBOT bergantung pada indikasi dan kondisi medis setiap pasien. Dokter perlu menilai pasien sebelum sesi dimulai.

Referensi

  1. Uji acak awal HBOT topikal untuk luka kaki diabetes tanpa gangren, Diabetes Care, 1988 (PubMed)
  2. Uji acak terbuka HBOT 2,5 ATA pada luka kaki diabetes yang tidak sembuh, Wound Ostomy and Continence Nursing, 2017 (PubMed)
  3. Uji acak HBOT selama dua minggu pada luka kaki diabetes, Ostomy Wound Management, 2013 (PubMed)
  4. Uji HODFU: uji acak, tersamar ganda, terkontrol plasebo HBOT pada luka kaki diabetes, ClinicalTrials.gov NCT00953186 (PubMed)
  5. Tinjauan sistematis dan meta-analisis uji terkontrol HBOT untuk luka kaki diabetes, Scientific Reports, 2021, DOI 10.1038/s41598-021-81886-1 (PubMed Central)
  6. Clinical Outcomes of Hyperbaric Oxygen Therapy for Diabetic Foot Ulcers: A Systematic Review (PubMed Central)
  7. Kementerian Kesehatan RI, Keputusan Menteri Kesehatan tentang Standar Pelayanan Medik Hiperbarik, 2008

Kredit gambar

  1. Foto: Peter Saxon via Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
  2. Ilustrasi dibuat dengan AI untuk keperluan editorial.
  3. Ilustrasi dibuat dengan AI untuk keperluan editorial.
  4. Foto: Klinik Darma Nusantara (darmanusantararaya.com), digunakan dengan izin.

Konten ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis. Keputusan terapi bergantung pada kondisi medis dan penilaian tenaga kesehatan profesional.