Panduan

Efek Samping HBOT: Apa yang Perlu Ditanyakan Sebelum Sesi di Klinik Darma Nusantara

Tinjauan sistematis mencatat efek samping HBOT umumnya ringan dan sementara. Risikonya dinilai lebih tinggi pada tekanan di atas 2,0 ATA dan perawatan lebih dari 10 sesi.

Oleh Redaksi Stem Cells Indonesia2 November 20266 menit baca
Foto ilustrasi.
Foto ilustrasi. Foto: ZEISS Microscopy from Germany via Wikimedia Commons, CC BY 2.0

Efek samping terapi oksigen hiperbarik (HBOT) umumnya tercatat ringan dan sementara, seperti pusing, sakit kepala, dan ketidaknyamanan telinga. Namun, sejumlah tinjauan sistematis juga menunjukkan bahwa risikonya dapat berbeda tergantung tekanan ruang dan jumlah sesi. Karena itu, pasien yang berencana menjalani HBOT di Klinik Darma Nusantara di Curug, Tangerang perlu memahami apa yang tercatat dalam penelitian sebelum datang.

Artikel ini membahas efek samping yang tercatat, faktor yang berkaitan dengan risiko lebih tinggi, dan pertanyaan yang wajar diajukan kepada dokter. Artikel ini tidak menjanjikan hasil terapi. Kesesuaian HBOT untuk setiap orang ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi medisnya.

Apa itu HBOT dan mengapa efek sampingnya perlu dibahas?

HBOT adalah terapi yang memberikan oksigen kepada pasien di dalam ruang bertekanan lebih tinggi daripada udara biasa. Karena pasien berada di bawah tekanan selama sesi, tenaga kesehatan perlu menilai risiko sebelum terapi dimulai.

Infografik konseptual: Efek Samping HBOT: Apa yang Perlu Ditanyakan Sebelum Sesi di Klinik Darma Nusantara
Ilustrasi konseptual, bukan gambaran klinis yang sebenarnya. Ilustrasi dibuat dengan AI untuk keperluan editorial.

Pembahasan efek samping menjadi bagian penting dari keputusan bersama antara pasien dan dokter. Pasien yang memahami kemungkinan reaksi tubuh dapat melaporkan keluhan lebih cepat dan lebih jelas.

Efek samping ringan apa saja yang tercatat?

Efek samping HBOT yang tercatat dalam tinjauan sistematis umumnya ringan. Beberapa temuan yang dilaporkan antara lain:

Tinjauan sistematis HBOT untuk nyeri kronis melaporkan bahwa efek samping sebagian besar ringan dan tidak ada efek serius atau permanen yang dilaporkan. Temuan ini berasal dari studi tertentu, sehingga tidak otomatis berlaku untuk semua pasien.

Kapan risiko HBOT tercatat lebih tinggi?

Risiko HBOT tercatat lebih tinggi pada tekanan di atas 2,0 ATA dan pada perawatan dengan lebih dari 10 sesi. ATA adalah satuan tekanan atmosfer absolut yang dipakai untuk menyatakan tekanan di dalam ruang HBOT.

Infografik konseptual: Efek Samping HBOT: Apa yang Perlu Ditanyakan Sebelum Sesi di Klinik Darma Nusantara
Ilustrasi konseptual, bukan gambaran klinis yang sebenarnya. Ilustrasi dibuat dengan AI untuk keperluan editorial.

Tinjauan sistematis dan meta-analisis efek samping HBOT di PubMed Central menyebut tingkat efek samping lebih tinggi ketika tekanan ruang di atas 2,0 ATA, dan risiko meningkat terutama pada tekanan tersebut atau perawatan lebih dari 10 sesi. Tinjauan klinis tentang HBOT untuk efek samping radioterapi kronis mencatat pola serupa, sekaligus menilai HBOT secara umum dapat ditoleransi dengan baik.

FaktorYang dicatat dalam tinjauanYang perlu ditanyakan ke dokter
Tekanan ruangTingkat efek samping lebih tinggi di atas 2,0 ATABerapa tekanan yang direncanakan untuk kondisi saya?
Jumlah sesiKemungkinan reaksi merugikan lebih tinggi pada umumnya lebih dari 10 sesiBerapa sesi yang direncanakan dan kapan dievaluasi?
Kecemasan atau klaustrofobiaPasien dengan kecemasan atau klaustrofobia memerlukan kehati-hatianApa yang dilakukan jika saya merasa tidak nyaman di dalam chamber?

Tabel ini merangkum temuan tinjauan sistematis, bukan rekomendasi untuk setiap pasien. Penentuan tekanan dan jumlah sesi tetap menjadi kewenangan tenaga medis.

Bagaimana dengan efek samping berat?

Tinjauan sistematis untuk fibromyalgia dan nyeri kronis tidak melaporkan efek samping serius atau permanen pada studi yang ditinjau. Catatan itu hanya menggambarkan studi tertentu dan tidak menjamin bahwa efek serius tidak akan terjadi pada individu tertentu.

Pasien tetap perlu melaporkan gejala yang tidak biasa kepada tenaga medis, dan tidak menunggu sesi berikutnya untuk menyampaikannya.

Pertanyaan apa yang wajar diajukan sebelum sesi HBOT?

Pasien berhak bertanya secara rinci sebelum menjalani terapi. Pertanyaan berikut dapat menjadi titik awal diskusi dengan dokter:

  1. Apakah HBOT sesuai dengan kondisi medis dan obat yang sedang saya konsumsi?
  2. Apa tujuan medis HBOT untuk kondisi saya, dan apa alternatif penanganan lain?
  3. Berapa tekanan dan jumlah sesi yang direncanakan, serta kapan hasilnya dievaluasi?
  4. Apa efek samping yang paling mungkin terjadi pada kasus saya, dan apa yang harus dilakukan jika muncul?
  5. Apakah saya perlu pemeriksaan atau skrining tambahan sebelum sesi pertama?

Apa hubungan HBOT dengan sel punca dan regenerative medicine?

HBOT dan terapi sel punca adalah dua pendekatan yang berbeda. Sel punca adalah sel yang dapat memperbarui diri dan berkembang menjadi jenis sel lain, dan menjadi dasar dari regenerative medicine, yaitu bidang kedokteran yang meneliti cara memulihkan atau menggantikan jaringan yang rusak.

HBOT berfokus pada pemberian oksigen dalam ruang bertekanan. Bahan riset yang ditinjau dalam artikel ini membahas keamanan dan efek samping HBOT, dan tidak memuat bukti bahwa HBOT mengaktifkan sel punca atau meningkatkan keberhasilan terapi sel punca. Karena itu, klaim semacam itu tidak sepatutnya dijadikan dasar keputusan berobat.

Tinjauan sistematis untuk luka bakar juga menyatakan bahwa bukti efektivitas HBOT di bidang tersebut belum konsisten. Hal ini menjadi pengingat bahwa bukti pada satu kondisi tidak otomatis berlaku untuk kondisi lain.

Apa yang perlu diketahui tentang HBOT di Klinik Darma Nusantara?

Klinik Darma Nusantara menyediakan layanan Terapi Oksigen Hiperbarik (HBOT) di Jl. Raya Serang Km. 9, Kadu, Curug, Tangerang 15810, Banten. Selain HBOT, klinik ini melayani dokter umum, dokter gigi, kebidanan, apotek, dan gawat darurat 24 jam.

Pasien dapat membawa daftar pertanyaan di atas saat berkonsultasi. Kesesuaian HBOT, tekanan, dan jumlah sesi tetap ditentukan dokter setelah pemeriksaan.

Relevansi untuk Indonesia

Di Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2018 mengatur penyelenggaraan pelayanan sel punca dan/atau sel. Peraturan itu ditetapkan dan diundangkan pada 26 Juli 2018 dan dicantumkan dalam daftar regulasi sel punca oleh Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI.

Menurut catatan JDIH Kementerian Kesehatan, peraturan tersebut tidak secara khusus mengatur HBOT. Pasien sebaiknya tidak mencampuradukkan layanan HBOT dengan layanan sel punca, dan perlu menanyakan dasar serta indikasi setiap layanan kepada fasilitas kesehatan.

Kesimpulan: tanyakan dulu, baru putuskan bersama dokter

Efek samping HBOT yang tercatat dalam tinjauan sistematis umumnya ringan dan sementara. Risiko dilaporkan lebih tinggi pada tekanan di atas 2,0 ATA dan perawatan lebih dari 10 sesi. Pasien sebaiknya membawa daftar pertanyaan ke dokter dan memastikan kesesuaian terapi dengan kondisinya.

Untuk informasi layanan Terapi Oksigen Hiperbarik, hubungi Klinik Darma Nusantara di (021) 5566 6316 atau WhatsApp +62 811-1015-3055, atau kunjungi situs resmi Klinik Darma Nusantara, lalu konsultasikan kesesuaiannya dengan tenaga medis.

Terapi Hiperbarik Oksigen bukan terapi sel punca, dan kesesuaiannya selalu ditentukan dokter setelah pemeriksaan. Untuk informasi layanan HBOT di Klinik Darma Nusantara di Curug, Tangerang, hubungi klinik lewat WhatsApp atau kunjungi website resmi Klinik Darma Nusantara.

Gedung Klinik Darma Nusantara
Klinik Darma Nusantara. Foto: Klinik Darma Nusantara (darmanusantararaya.com), digunakan dengan izin.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa efek samping HBOT yang paling umum?

Efek samping HBOT yang paling sering tercatat adalah pusing, sakit kepala, ketidaknyamanan telinga, dan rasa cemas singkat. Menurut tinjauan sistematis untuk gangguan psikiatri dan fibromyalgia, sebagian besar efek samping tersebut ringan dan sementara.

Apakah HBOT berbahaya?

HBOT umumnya dinilai dapat ditoleransi dengan baik dalam sejumlah tinjauan sistematis, dengan efek samping yang sebagian besar ringan. Namun, tingkat risiko setiap pasien tetap perlu dinilai dokter sesuai kondisi medisnya.

Berapa sesi HBOT yang berisiko lebih tinggi?

Tinjauan klinis tentang HBOT untuk efek samping radioterapi kronis menyebut kemungkinan reaksi merugikan lebih tinggi pada lebih dari 10 sesi. Jumlah sesi yang sesuai untuk setiap pasien ditentukan oleh dokter.

Apakah HBOT sama dengan terapi sel punca?

Tidak, HBOT adalah pemberian oksigen dalam ruang bertekanan dan berbeda dengan terapi berbasis sel punca. Bahan riset yang ditinjau tidak memuat bukti bahwa HBOT mengaktifkan sel punca.

Referensi

  1. Tinjauan sistematis dan meta-analisis, "Adverse effects of hyperbaric oxygen therapy: a systematic review and meta-analysis", PubMed Central (jurnal tidak teridentifikasi dalam hasil pencarian)
  2. Tinjauan klinis, "Hyperbaric oxygen therapy for chronic radiotherapy-related adverse effects: A clinically focused review", PubMed Central (jurnal tidak teridentifikasi dalam hasil pencarian)
  3. Tinjauan sistematis, "Hyperbaric Oxygen Therapy in Managing Chronic Pain Syndromes: A Systematic Review", PubMed Central (jurnal tidak teridentifikasi dalam hasil pencarian)
  4. Tinjauan sistematis dan meta-analisis, "Efficacy and safety of hyperbaric oxygen therapy for women with fibromyalgia: a systematic review and meta-analysis of RCTs", PubMed (jurnal tidak teridentifikasi dalam hasil pencarian)
  5. "Effectiveness and safety of hyperbaric oxygen therapy for psychiatric disorders: A systematic review and meta-analysis", Psychiatry and Clinical Neurosciences, Wiley, 2026
  6. "Hyperbaric Oxygen Therapy in Burn Care: A Systematic Review of Current Evidence", Journal of Burn Care & Research, Oxford University Press, 2026
  7. Kementerian Kesehatan RI, JDIH, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan pelayanan sel punca dan/atau sel, 2018
  8. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI, daftar regulasi sel punca

Kredit gambar

  1. Foto: ZEISS Microscopy from Germany via Wikimedia Commons, CC BY 2.0
  2. Ilustrasi dibuat dengan AI untuk keperluan editorial.
  3. Ilustrasi dibuat dengan AI untuk keperluan editorial.
  4. Foto: Klinik Darma Nusantara (darmanusantararaya.com), digunakan dengan izin.

Konten ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis. Keputusan terapi bergantung pada kondisi medis dan penilaian tenaga kesehatan profesional.