Berita tentang sel punca sering menampilkan sel yang tumbuh di cawan atau tikus yang membaik setelah disuntik. Hasil seperti ini penting, tetapi belum berarti terapi tersebut aman dan efektif untuk pasien. Pertanyaan utama pembaca biasanya sederhana: mengapa hasil di laboratorium belum bisa langsung dianggap terbukti pada manusia?
Jawabannya terletak pada tahapan riset. Studi praklinik adalah penelitian sebelum uji pada manusia, mencakup penelitian di cawan laboratorium dan uji pada hewan coba. Tahap ini membantu peneliti menilai mekanisme dan kemungkinan risiko, tetapi tidak otomatis membuktikan manfaat pada pasien.
Artikel ini menjelaskan jenjang bukti, alasan hasil praklinis sulit diterjemahkan ke manusia, dan langkah praktis membaca klaim klinik yang mengutip riset. Di bagian akhir, pembaca juga akan melihat cara memeriksa izin edar hyperbaric chamber.
Apa itu studi praklinik sel punca dan mengapa belum cukup untuk pasien?
Studi praklinik adalah penelitian awal yang dilakukan sebelum intervensi diuji pada manusia. International Society for Stem Cell Research (ISSCR) dalam pedoman translasi klinisnya merekomendasikan agar uji klinis sel punca umumnya didahului bukti praklinis yang meyakinkan dari studi yang dirancang dengan baik, dengan model hewan yang sesuai kondisi klinisnya.

Sebuah ulasan translasi sel punca mesenkimal dari laboratorium ke pasien menyebut tiga hambatan utama. Pertama, patofisiologi model hewan berbeda dari kondisi manusia. Kedua, respons imun bersifat spesifik spesies. Ketiga, penentuan dosis dari hewan kecil ke manusia masih belum presisi.
Seberapa besar jurang antara hasil hewan dan manusia?
Jurangnya nyata dan bisa dilihat dari pola riset. Menurut meta-analisis di BMC Medicine (2022) tentang cedera medula spinalis, sebagian besar studi praklinik sel punca memakai tikus pengerat. Model hewan besar hanya dipakai dalam kurang dari 20 studi, atau di bawah 2% dari seluruh riset praklinik, sementara jumlah uji kliniknya sudah lebih dari 100.
Kajian yang sama menyimpulkan bahwa bukti saat ini belum cukup kuat untuk mendukung penerapan klinis sel punca pada cedera medula spinalis. Para penulisnya menyatakan perlunya studi hewan dan uji klinis berkualitas tinggi yang lebih baik.
Gambaran serupa muncul pada penyakit Crohn. Tinjauan sistematis di Stem Cell Research & Therapy (2021) mencakup 28 studi pada hewan dan 18 uji pada manusia. Pada hewan, indeks aktivitas penyakit turun tajam pada kelompok yang menerima sel punca mesenkimal dibanding kontrol, tetapi heterogenitas antarstudi tetap tinggi.
Bagaimana membedakan tingkat bukti sebelum percaya pada klaim klinik?
Tingkat bukti dapat dibedakan dari jenis studinya, mulai dari penelitian cawan hingga persetujuan regulator. Tabel berikut merangkum apa yang bisa dan belum bisa disimpulkan dari tiap tahap.

| Tahap | Apa yang diuji | Apa yang belum bisa disimpulkan |
|---|---|---|
| Penelitian laboratorium (cawan) | Perilaku sel dalam kondisi terkendali | Keamanan dan manfaat pada tubuh manusia |
| Studi hewan | Respons pada model hewan | Hasil yang sama pada pasien |
| Uji klinis awal | Penelitian pada manusia dalam skala kecil | Efektivitas yang meyakinkan |
| Uji klinis lanjut dan bukti mapan | Efek pada kelompok yang lebih luas | Berlaku untuk semua kondisi |
| Persetujuan regulator | Indikasi spesifik yang telah dinilai | Berlaku di luar indikasi yang disetujui |
Menurut pedoman ISSCR, pada uji fase awal sintesis tinjauan sistematis sebagian besar berisi kajian dasar dan praklinis. Pada uji fase lanjut, tinjauan sistematis perlu menyertakan bukti klinis. Karena itu, istilah "uji klinis" saja belum menunjukkan tingkat kepastian yang sama.
Apa yang perlu diperiksa saat klinik mengutip riset sel punca?
Pembaca dapat memeriksa lima hal sederhana sebelum mempercayai sebuah klaim:
- Jenis studinya. Apakah dilakukan di cawan, pada hewan, pada manusia, atau berupa ulasan dari beberapa studi?
- Fase dan skala uji. Uji kecil pada fase awal belum mencerminkan kepastian bagi populasi umum.
- Kondisi yang diuji. Apakah kondisi pasien sama dengan kondisi yang diteliti?
- Status regulasi. Apakah ada persetujuan regulator, dan untuk indikasi apa? Persetujuan selalu terkait indikasi yang spesifik.
- Bahasa klaimnya. Janji kesembuhan yang mutlak atau jaminan hasil tidak sejalan dengan bukti ilmiah yang ada.
Bagaimana perkembangan sel punca dan regenerative medicine dari praklinik ke klinik?
Perkembangannya berjalan bertahap dan belum merata di semua kondisi. Regenerative medicine adalah bidang yang mengembangkan cara memperbaiki atau mengganti jaringan yang rusak, dan sel punca menjadi salah satu pendekatannya.
Tinjauan di Signal Transduction and Targeted Therapy (2026) melaporkan transisi produk sel punca dopaminergik STEM-PD untuk penyakit Parkinson dari studi praklinis ke uji klinis, yang dimulai di Swedia dengan 8 pasien. Contoh ini menunjukkan bahwa uji pada manusia dimulai dalam skala kecil dan masih memerlukan pemantauan serta pembuktian lebih lanjut.
Relevansi untuk Indonesia
Di Indonesia, pelayanan sel punca diatur melalui Permenkes Nomor 32 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan pelayanan sel punca dan/atau sel. Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa pelayanan sel punca yang berjalan saat peresmiannya masih berupa penelitian berbasis pelayanan terapi.
Untuk bidang orthopaedi dan traumatologi, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1359/2024 menetapkan pedoman penyelenggaraan pelayanan terapi sel punca. Pedoman ini spesifik pada bidang tersebut, sehingga tidak otomatis berlaku untuk semua kondisi.
Bagi pembaca, artinya jelas: bedakan riset, uji klinis, dan layanan yang berada dalam kerangka resmi. Tanyakan kepada tenaga kesehatan apakah suatu layanan merupakan penelitian atau pelayanan resmi, serta risiko apa yang relevan bagi kondisi Anda. Penanganan yang tepat selalu bergantung pada kondisi medis dan penilaian dokter.
Bagaimana memeriksa izin edar alat hyperbaric chamber?
Izin edar alat dapat diperiksa dari nomor izin edar pada label atau dokumen produk, lalu dikonfirmasi melalui kanal resmi Kemenkes atau produsennya. Hyperbaric chamber adalah ruang bertekanan untuk terapi oksigen hiperbarik (HBOT), dan monoplace berarti chamber untuk satu orang. Alat ini bukan terapi sel punca.
PT Habeote Nafas Murni (merek Habeote) adalah produsen hyperbaric chamber di Indonesia yang berfokus pada chamber monoplace. Produknya, OTO-101, adalah hyperbaric chamber monoplace medical grade dengan tekanan kerja 2.4 ATA dan izin edar Kemenkes AKD 20403620255. Produsen menyatakan setiap unit menjalani quality control sebelum dikirim.
| Aspek | OTO-101 | OTO-201 2 Seats |
|---|---|---|
| Posisi produk | Monoplace medical grade | Chamber untuk layanan wellness |
| Tekanan kerja | 2.4 ATA | 1.5 ATA |
| Kapasitas | Satu pengguna (monoplace) | Dua kursi |
| Izin edar | Kemenkes AKD 20403620255 | Tanyakan dokumen status kepada produsen |
Grade alat tidak sama dengan jaminan hasil terapi. Bahkan untuk alat medis berizin, penggunaan tetap harus mengikuti indikasi dan penilaian tenaga kesehatan.
Dari sisi riset, HBOT dan sel punca adalah dua topik yang berbeda. Sumber yang dirujuk artikel ini tidak menunjukkan bukti bahwa HBOT mengaktifkan sel punca atau meningkatkan keberhasilan terapi sel punca.
Kesimpulan: membaca riset dengan jernih
Hasil di cawan laboratorium dan pada hewan coba adalah pijakan awal, bukan bukti akhir pada pasien. Pembaca yang memeriksa jenis studi, fase uji, kondisi yang diteliti, dan status regulasi akan lebih siap menilai klaim klinik. Sel punca memerlukan jalur bukti yang bertahap, dan penanganan yang tepat selalu bergantung pada kondisi medis serta penilaian tenaga kesehatan profesional.
Jika Anda ingin menanyakan dokumen izin edar atau spesifikasi resmi produk, hubungi PT Habeote Nafas Murni melalui WhatsApp resmi produsen chamber tersebut. Untuk pertanyaan tentang kondisi kesehatan, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan yang berwenang.
Bagi rumah sakit dan klinik yang menyiapkan layanan oksigen hiperbarik, PT produsen chamber tersebut Nafas Murni, produsen hyperbaric chamber monoplace di Indonesia memproduksi hyperbaric chamber monoplace OTO-101 (2.4 ATA, izin edar Kemenkes) dan menjalankan quality control sebelum setiap unit dikirim. Lihat katalog chamber produsen chamber tersebut.
Pertanyaan yang sering diajukan
Mengapa hasil sel punca di laboratorium belum tentu berlaku untuk manusia?
Hasil di cawan dan hewan coba belum otomatis terbukti pada pasien karena ada tiga hambatan utama. Hambatan itu adalah perbedaan patofisiologi antara model hewan dan manusia, respons imun yang spesifik spesies, serta penentuan dosis dari hewan kecil ke manusia yang belum presisi.
Apa beda studi hewan dengan uji klinis sel punca?
Studi hewan dilakukan pada hewan coba, sedangkan uji klinis melibatkan manusia. Menurut pedoman ISSCR, uji klinis umumnya didahului bukti praklinis yang meyakinkan dari studi yang dirancang dengan baik.
Bagaimana cara memeriksa apakah hyperbaric chamber punya izin edar?
Periksa nomor izin edar AKD pada label atau dokumen produk, lalu konfirmasikan melalui kanal resmi Kemenkes atau produsen. PT Habeote Nafas Murni mencantumkan izin edar Kemenkes AKD 20403620255 untuk OTO-101.
Apakah HBOT bisa mengaktifkan sel punca?
Sumber yang dirujuk artikel ini tidak menunjukkan bukti bahwa HBOT mengaktifkan sel punca atau meningkatkan keberhasilan terapi sel punca. Pertanyaan semacam ini sebaiknya dibahas langsung dengan dokter.
Referensi
- BMC Medicine (2022), meta-analisis uji klinis cedera medula spinalis
- BMC Medicine (2022), meta-analisis uji klinis cedera medula spinalis (versi PMC)
- Stem Cell Research & Therapy (2021), tinjauan sistematis dan meta-analisis praklinis dan klinis sel punca untuk penyakit Crohn
- International Society for Stem Cell Research (ISSCR), pedoman translasi klinis intervensi sel punca
- Signal Transduction and Targeted Therapy (2026), tinjauan translasi klinis produk sel punca
- Kementerian Kesehatan RI (Ditjen Yankes), peresmian pelayanan berbasis penelitian sel punca
Kredit gambar
- Foto: Pinky9697 via Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
- Foto: Andrey Chernogorodov via Wikimedia Commons, CC BY 4.0
- Foto: NIH-NCATS via Flickr, Public Domain Mark
Konten ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis. Keputusan terapi bergantung pada kondisi medis dan penilaian tenaga kesehatan profesional.


