Ketika membaca kabar tentang sel punca paru, pertanyaan pertama yang sering muncul adalah apakah terapinya sudah bisa dipakai untuk pasien. Untuk organoid dan model sel paru, jawabannya saat ini belum. Model-model ini adalah alat riset yang dipakai ilmuwan untuk memahami bagaimana paru-paru bereaksi terhadap asap rokok, bukan produk pengobatan.
Organoid adalah kultur sel tiga dimensi yang menyerupai sebagian struktur jaringan asalnya. Dalam riset paru, organoid dan sel epitel saluran napas memungkinkan peneliti menguji efek paparan asap di luar tubuh manusia maupun hewan. Artikel ini membahas apa yang sudah ditunjukkan riset, peran sel punca di dalamnya, serta artinya bagi pasien dan masyarakat di Indonesia. Panduan membaca riset semacam ini juga tersedia di Cara Membaca Riset Sel Punca untuk Cedera Paru akibat Asap.
Mengapa Organoid Paru Dipakai untuk Meneliti Asap
Riset tentang bahaya merokok sering terhambat keterbatasan model hewan. Sebuah tinjauan tentang organoid paru dalam riset merokok menyebut dua alasan utama, yaitu perbedaan spesies antara hewan dan manusia serta ketidakmampuan model hewan meniru kompleksitas seluler paru manusia. Karena itu, peneliti mengembangkan model berbasis sel manusia.

Ada beberapa jenis model yang digunakan. Pertama, sel epitel bronkus manusia yang dipapar langsung ke asap melalui sistem air-liquid interface, yang memungkinkan sel terpapar langsung ke udara. Kedua, organoid paru manusia yang dipapar ekstrak asap rokok secara kronis. Ketiga, organoid paru vaskularisasi yang dibuat dari sel punca pluripoten terinduksi (iPSC).
Apa yang Ditunjukkan Riset Laboratorium dan Hewan
Temuan-temuan berikut perlu dibaca sesuai jenis buktinya. Sebagian besar berasal dari penelitian laboratorium, dan satu berasal dari studi hewan.
- Adaptasi sel terhadap stres. Penelitian yang dimuat di situs Nature (artikel s12276-026-01743-x) memaparkan sel epitel bronkus dan organoid paru manusia pada ekstrak asap rokok utuh secara kronis. Hasilnya menunjukkan adaptasi redoks-mitokondria yang membantu sel bertahan dari stres oksidatif berkepanjangan.
- Organoid yang membesar dan tahan stres. Pada organoid yang terpapar kronis, ukurannya membesar dan apoptosis (kematian sel terprogram) menurun. Pola ini sejalan dengan fenotipe toleran stres, sehingga model dinilai mampu menggambarkan tahap awal adaptasi sel terhadap asap rokok.
- Kemiripan dengan PPOK. Organoid paru vaskularisasi dari iPSC yang dipapar ekstrak asap menunjukkan gangguan epitel dan respons inflamasi yang mirip penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) klinis. Model ini dipakai untuk meneliti mekanisme penyakit, bukan untuk pengobatan.
- Studi pada tikus. Paparan asap rokok intermiten selama tiga minggu meningkatkan aktivitas sel punca alveolar tipe 2 melalui jalur oksidasi asam lemak. Temuan ini diuji dengan assay organoid 3D lalu dikonfirmasi pada kultur sel.
Tinjauan literatur tentang organoid paru dalam riset merokok (PMC12272669) menyimpulkan bahwa sebagian besar studi menemukan kelainan struktur jaringan yang mirip fibrosis, yang diduga berperan dalam patogenesis PPOK. Studi lain pada sel epitel saluran napas yang dipapar asap kebakaran hutan (PMC9855943) melaporkan profil ekspresi lncRNA yang berbeda untuk tiap jenis asap, dan penulisnya menyebut model ini dapat mengurangi penggunaan hewan coba.
Semua sumber tersebut berfokus pada mekanisme di laboratorium dan hewan. Tidak ada satu pun yang menguji terapi pada pasien perokok atau penderita PPOK.
Peran Sel Punca dalam Model Ini
Sel punca menjadi bagian penting karena organoid paru dapat dibuat dari iPSC, yaitu sel dewasa yang diprogram ulang sehingga dapat berkembang menjadi berbagai jenis sel. Pada studi tikus, sel punca alveolar tipe 2 yang diteliti aktivitasnya berubah akibat paparan asap. Dalam konteks ini, sel punca berperan sebagai objek penelitian, bukan sebagai produk terapi.

Regenerative medicine, yaitu bidang yang berupaya memperbaiki atau menggantikan jaringan yang rusak, memang memanfaatkan sel punca. Meski demikian, jalur dari temuan laboratorium menuju terapi yang aman dan efektif masih panjang dan harus melewati uji klinis yang terukur. Temuan di cawan laboratorium belum otomatis menjadi pengobatan.
Relevansi untuk Indonesia
Penyelenggaraan pelayanan sel punca di Indonesia diatur dalam Permenkes Nomor 32 Tahun 2018, yang ditetapkan dan diundangkan pada 26 Juli 2018 dan berstatus berlaku menurut JDIH Kementerian Kesehatan. Sejumlah pernyataan dan pedoman Kemenkes memperjelas batasannya:
- KMK HK.01.07/MENKES/1359/2024 berisi pedoman pelayanan terapi sel punca khusus di bidang orthopaedi dan traumatologi, sehingga tidak mencakup terapi paru.
- Sel punca yang boleh digunakan harus berasal dari fasilitas laboratorium pengolah yang berizin Kemenkes dan/atau BPOM. Terapi di klinik masih terbatas pada penggunaan lokal atau topikal.
- Penggunaan sel punca di Indonesia masih berupa penelitian berbasis pelayanan di rumah sakit yang ditetapkan Menteri.
- Pada saat pernyataan Kemenkes tersebut dibuat, belum ada produk sel punca yang izin edarnya diterbitkan BPOM.
Dengan demikian, temuan bahwa organoid paru menyerupai PPOK atau bahwa sel punca meningkat aktivitasnya pada tikus tidak berarti terapi paru berbasis sel punca tersedia di Indonesia. Untuk keluhan paru, termasuk yang dipicu asap, penilaian dan penanganan tetap bergantung pada kondisi medis masing-masing dan penilaian tenaga kesehatan profesional. Saat kabut asap, pembaca juga dapat membaca penjelasan gejala keracunan karbon monoksida dan kapan perlu ke IGD di HBOTNews.
Memilah Informasi tentang HBOT dan Sel Punca
Pembaca yang mencari informasi tentang paru dan asap sering juga menemukan layanan oksigen hiperbarik (HBOT). Penting dipahami bahwa HBOT dan terapi berbasis sel punca adalah dua hal yang berbeda. Sumber riset dalam artikel ini tidak menguji HBOT sebagai terapi kerusakan paru akibat asap, sehingga tidak ada dasar untuk menyatakan bahwa HBOT mengaktifkan sel punca.
Klinik Darma Nusantara menyediakan Terapi Hiperbarik Oksigen (HBOT). Untuk memahami daftar indikasi resmi dan membedakannya dari klaim wellness, pembaca dapat membaca ulasan indikasi resmi HBOT di HBOTNews. Kesesuaian HBOT untuk kondisi tertentu tetap perlu dikonsultasikan dengan tenaga medis.
Kesimpulan
Organoid dan model sel paru adalah alat riset yang membantu ilmuwan memahami bagaimana asap rokok merusak sel paru dan memicu adaptasi di dalamnya. Temuan dari laboratorium dan hewan penting untuk arah riset, tetapi belum berarti terapi tersedia bagi pasien. Untuk membaca aturan terkait, pembaca dapat mengunjungi kanal Regulasi & Etika.
Jika Anda ingin memahami perbedaan HBOT dengan terapi berbasis sel punca, mulailah dengan menanyakan hal tersebut kepada tenaga medis. Untuk informasi layanan Terapi Hiperbarik Oksigen di Klinik Darma Nusantara, hubungi kanal resmi klinik melalui WhatsApp resmi klinik dan konsultasikan kesesuaiannya dengan tenaga medis.

Untuk keluhan tulang belakang, sendi, dan postur, perawatan muskuloskeletal konservatif dapat dikonsultasikan lebih dulu sesuai penilaian tenaga kesehatan. Chiropractic bukan terapi sel punca, tetapi dapat menjadi bagian dari perawatan fungsi gerak. Pelajari layanannya di website resmi Chirobone.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah organoid paru sudah bisa dipakai untuk mengobati PPOK?
Belum. Organoid paru saat ini dipakai sebagai model riset untuk mempelajari mekanisme kerusakan dan respons inflamasi, bukan sebagai pengobatan. Penanganan PPOK tetap bergantung pada penilaian tenaga medis.
Apakah terapi sel punca untuk kerusakan paru akibat asap sudah tersedia di Indonesia?
Menurut pernyataan Kemenkes, penggunaan sel punca di Indonesia masih berupa penelitian berbasis pelayanan di rumah sakit yang ditetapkan Menteri. Pedoman KMK HK.01.07/MENKES/1359/2024 juga hanya mencakup bidang orthopaedi dan traumatologi, sehingga tidak mencakup terapi paru.
Mengapa peneliti memakai organoid, bukan hanya hewan coba?
Sebuah tinjauan menyebut bahwa model hewan memiliki keterbatasan karena perbedaan spesies dan belum mampu meniru kompleksitas seluler paru manusia. Organoid berbasis sel manusia dipakai untuk melengkapi temuan dari hewan.
Apakah HBOT dapat mengaktifkan sel punca paru?
Tidak ada dasar dalam sumber riset ini untuk menyatakan demikian. HBOT dan terapi sel punca adalah dua hal berbeda, dan kesesuaian HBOT untuk kondisi tertentu perlu dikonsultasikan dengan tenaga medis.
Apa yang sebaiknya dilakukan jika mengalami gangguan napas akibat asap?
Segera mencari penilaian tenaga kesehatan profesional sesuai kondisi Anda. Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan medis.
Referensi
- Nature (nature.com), artikel s12276-026-01743-x: paparan ekstrak asap rokok utuh kronis pada sel epitel bronkus dan organoid paru manusia. Nama jurnal dan tahun belum terverifikasi redaksi.
- PubMed, ID 42677920: organoid paru vaskularisasi dari iPSC yang dipapar ekstrak asap rokok. Nama jurnal dan tahun belum terverifikasi redaksi.
- Respiratory Research (BioMed Central), 2022: paparan asap rokok intermiten pada tikus dan aktivitas sel punca alveolar tipe 2 (peringkat Q1 perlu diverifikasi redaksi).
- PMC, tinjauan sistematis organoid paru dalam riset bahaya merokok. Nama jurnal dan tahun belum terverifikasi redaksi.
- PMC, tinjauan organoid paru dalam riset merokok dan keterbatasan model hewan. Nama jurnal dan tahun belum terverifikasi redaksi.
- PMC, studi sel epitel saluran napas manusia yang dipapar asap kebakaran hutan. Nama jurnal dan tahun belum terverifikasi redaksi.
- Kementerian Kesehatan RI, Permenkes Nomor 32 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Sel Punca dan/atau Sel, JDIH Kemenkes, 2018.
- Kementerian Kesehatan RI, Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1359/2024 tentang pedoman terapi sel punca khusus orthopaedi dan traumatologi, 2024.
- Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Pelayanan Kesehatan (Keslan), informasi terapi sel punca.
- Kementerian Kesehatan RI, pernyataan resmi tentang sel punca di Indonesia (tanggal tidak tercantum di hasil pencarian).
Kredit gambar
- Foto: ZEISS Microscopy from Germany via Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0
- Foto: ZEISS Microscopy via Wikimedia Commons, CC BY 2.0
- Foto: Ivan A. Novikov via Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
- Foto: Klinik Darma Nusantara (darmanusantararaya.com), digunakan dengan izin.
Konten ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis. Keputusan terapi bergantung pada kondisi medis dan penilaian tenaga kesehatan profesional.

